UNDHUH-UNDHUH
(Sebagai refleksi memelihara keutuhan ciptaan)
Etika Kristen dan Antroposentris
Kitab kejadian dipahami sebagai gambaran eksistensial Ke- Allahan yang berkarya dalam karya penyelamatan umat di dalam kehidupan bangsa Israel. Kitab ini ditulis oleh Sumber P (=imam) khususnya kej 1-3 pada masa sesudah pembuangan sehingga diwarnai oleh situasi penderitaan. Ps. 1:28 menjadi ayat yang telah lama didiskusikan dan diperdebatkan dikalangan penfsir dan etikus Kristen. Paling tidak ada dua golongan besar yang ekstrim dalam memahami ayat tersebut. Golongan pertama berorientasi bahwa manusia diberikan kebebasan untuk menaklukan bumi dan segalanya yang sudah tercipta ini. Tafsiran ini merujuk pada pemahaman bahwa apa yang telah ditumbuhkan seperti pepohonan, atau tumbuh-tumbuhan yang ada di darat, burung yang ada di udara, ikan yang ada di sungai dan laut serta segala yang hidup dan bergerak di atas bumi harus ditaklukkan, dan dikuasai. Konsep ini menunjukkan pada keserakahan. Ketidak sadaran muncul pada saat kebutuhan ekonomi pada akhirnya mengarah pada perusakan dan pengeksploitasian alam. Seperti: Penebangan hutan secara tidak bertanggungjawab yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. ( lucunya, masyarakat atau rakyat yang hidup disekitarnya yang dijadikan keranjang kesalahan/kambing hitam, kalau dihitung berapa sih banyaknya yang mampu diambil oleh masyarakat sekitarnya hanya untuk kebutuhan sehari-hari bila dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar). Golongan kedua menafsirkan secara baru, bahwa Allah memberikan perintah kepada manusia untuk menaklukan bumi, tetapi tidak mengarah pada perusakan tetapi memilihara scara bertanggungjawab. Pemahaman atau golongan kedua inilah yang mencoba memberikan pengertian dan konsep baru tentang pentingnya menjaga keutuhan ciptaan ini. Manusia diberi perintah untuk mengeksplorasi, mendayagunakan dan memelihara seluruh ciptaan ini secara bertanggungjawb. Meskipun penafsiran oleh golongan kedua ini menjadi konsep humanis yang antroposentris realitas yang terjadi adalah; kerusakan atas keserakahan manusia bukan semakin surut, sebaliknya semakin tidak terkendali. Orientasi yang dibangun adalah mengembangkan dan mensejahterakan masyarakat melalui orentasi ekonomi dengan pengembangan industrialisasi. Nilai dan konsep hidup agraris dinilai telah kuno dan tidak kompetetif dalam mengusahakan kesejahteraan ekonomi rakyat. Pendekatan industrialisasi disatu sisi memang mempercepat arus dan perubahan ekonomi, tetapi dilain sisi kita diperlihatkan pada rusaknya tatanan hidup yang sebenarnya telah mengilhami penghormatan manusia pada alam.
Menghilangnya Keberpihakan Pada Alam
Bisakah generasi saat ini menjastifikasi bahwa nenek-kakek moyang kita “tidaklah beradab kehidupannya” dibandingkan kita yang hidup saat ini yang notabene telah memiliki kepercayaan dan agama yang telah tersistimatisasikan begitu rupa ? Tegakah juga kita menyatakan bahwa nenek-kakek moyang kita kehidupannya tidak beradab karena tidak memiliki kepercayaan dan agama seperti kita ? Mari kita membandingkannya melalui penelusuran jaman. Pola pikir nenek-kakek moyang kita dahulu merupakan pola pikir masyarakat agraris yang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan dinamisme. Dalam masyarakat agraris, “sanak” (jawa: saudara) menempati tempat utama, baru kemudian “sathak” (jawa: harta). Pepatah “Tuna sathak bathi sanak” (artinya : kita boleh merugi /kehilangan harta jika hal tersebut menambah saudara) yang sangat popular di kalangan masyarakat pedesaan menunjukkan bahwa relasi dengan sesam , termasuk dengan alam jauh lebih penting daripada harta (ekonomi). Pemahaman ini berkaitan erat dengan nilai “harmoni” yang diyakini dalam kosmologi masyarakat agraris tadi. Pola pikir masyarakat agraris yang dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan dinamisme secara sangat cepat digeser oleh masyarakat industrialis yang logis dan mekanis, dan oleh masyarakat agamis. Hilangnya nilai dan pemahaman mistis tentang pohon dan tanaman secara luas menyebabkan penebangan hutan habis-habisan terjadi dinegara-negara industri termasuk Negara Indonesia yang sedang menuju kearah masyarakat industrialis. Dalam masyarakat yang berorientasi pada ekonomi, maka alam bukan lagi ditempatkan dalam pola hubungan –yaitu sebagai sahabat—melainkan semata-mata dilihat sebagai sumber daya. Bahkan manusia sekalipun, dalam bahasa masyarakat industrialis dan masyarakat yang berorientasi pada ekonomi umumnya, ditempatkan sebagai sumber daya semata, dan bukan lagi sebagai being atau pribadi yang hidup, apalagi sahabat. Sebagai sumber daya, dia layak dieksplotasi samapai habis (hancur)sepanjang mendatangkan keuntungan.
Undhuh-undhuh sebagai manivestasi dan refleksi.
Kala jaman kehidupan nenek-kakek moyang kita, undhuh-undhuh ini merupakan syukur atas panenan tanaman di sawah/ladang. Sama seperti saudara-saudara kita yang masih lekat dengan paham kejawen (paham yang terus menempatkan penghargaan terhadap alam). Paha mini melihat pohon tidak hanya dipandang sekedar pepohonan saja, melainkan sebagai sesuatu yang hidup, memiliki kekuatan, dan layak dihargai. Agama-agama suku dalam ritualnya menempatkan alam pada tempat yang tinggi. Orang-orang agamais mengubah pemahaman tentang pohon-pohon dan seluruh alam ini menjadi semata-mata pepohonan dan alam tempat kita hidup. Agama-gama besar telah menggeser agama dan kepercayaan suku dengan segala ritualnya. Agama-agama besar termasuk agama Kristen tidak lagi memberi tempat bagi ritual-ritual yang menunjukkan adanya penghargaan yang tinggi kepada alam seperti ritual sedekah laut, ritual tandhur dan pethil dll. Maka secara langsung atau tidak gama-agam besar telah ikut merusak alam. Tentu saja, saya tidak hendak mengundang gereja di dalamnya utk melakukan kembali ritual-ritual lama itu persis seperti awalnya. Akan tetapi, mari kita melihat kenyataan alam saat ini pantas untuk menjadi bahan perenungan bersama.
Perayaan undhuh-undhuh di kalangan gereja biasanya ditradisikan pada kegiatan atau program Pentakosta. Undhuh-undhuh artinya memetik hasil bumi/tanaman. Melalui perayaan tersebut kita bersyukur atas berkat-berkat Tuhan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita. Undhuh-undhuh juga merupakan ikrar dan simbolisasi jemaat untuk bersyukur atyas berkat dan rejeki pemberitan Tuhan melalui pekerjaan kita dikantor, perusahaan, took, dsb. Yang diwujudkan dengan uang atau persembahan bahan makanan yang dikelola oleh panitia.
Undhuh-undhuh dilangsungkan dalam kebaktian/perayaan Pentakosta yang mengingatkan kita pada peristiwa turunnya Roh Kudus. Pada hari pentakosta itu terjadi panen, yaitu panen jiwa yang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus serta kemudian dibabtis. Unduh-undhuh dalam Kebaktian Pentakosta itu akan divisualisasikan dengan persembahan hasil bumi dan buah ketrampilan tangan keluarga.
Kamis, 04 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar